Menjadi ibu zaman sekarang itu rasanya kok susah susah gampang, ya?
Gampang karena semua informasi mudah betul dicari. Cukup dengan hp dan kuota internet, maka meluncurlah kita di browser dan menanyakan segalanya ke mesin pencari jawara, Google.
Susah karena terlalu banyak "mazhab" dalam dunia parenting. Let's say Baby Lead Weaning (BLW), spoon feeding, ASI atau susu formula, dalam dunia per-ASI-an aja, masih ada lagi paham yang berbeda, menyusui langsung atau ASI perah. Saking banyaknya, kadang ketika menjalani peran sebagai seorang ibu, yang ada malah gelisah dan takut salah. Belum lagi saat harus berhadapan dengan paham yang dianut oleh orang tua sendiri, mertua, bahkan para ipar yang pastinya mempunyai sudut pandang yang berbeda pula.
Lama-lama akhirnya kita keder sendiri dan merasa not good enough in being a mother.
Padahal ya, terlepas dari semua aliran yang ada, seharusnya peran ibu itu dijalani dengan penuh kebahagiaan, karena nggak semua perempuan punya kesempatan untuk menjadi seorang ibu, toh?
Ya kayak saya ini, baru dikasih kesempatan sama Allah punya anak satu, dari tiga kehamilan.
Setiap kehamilan punya ceritanya sendiri, dan dengan si "perkasa" yang alhamdulillah saat ini sudah berusia 5 tahun 10 bulan pun kami jalani dengan beragam rintangan. Sejak Asaboy berusia 2 bulan, kandungan saya sudah bermasalah, hingga ketika lahir pun, si kecil harus stay di inkubator selama beberapa hari. Di situ saja saya udah merasa jadi ibu yang nggak becus. Akhirnya berujung baby blues yang cukup parah.
Masa menyusui yang harusnya saya nikmati malah jadi penuh drama dan derita. Hiks. Badan sampai kurus banget, bobot saya menyusut dari 80 kg (saat hamil) hingga hampir 40 kg! Berat badan bisa diskon hampir 50 persen gitu, coba?
Sampai akhirnya saya menyadari bahwa ada yang salah. Kesalahan utama saya adalah, terlalu sibuk mencari apa yang salah, sampai saya lupa bahwa manusia memang tempatnya khilaf. Saya lupa bahwa nggak apa-apa untuk merasa nggak baik-baik aja. Nggak apa-apa untuk minta pertolongan orang lain kalau memang kita sudah nggak mampu. Nggak apa-apa untuk konsultasi ke ahlinya jika kondisi mental kita sudah di ujung tanduk. It's okay to be not okay.
Beragam tekanan yang kita hadapi sebagai seorang ibu, baik yang bekerja di ranah publik maupun domestik itu serupa tapi tak sama. Tidak bisa dibandingkan atau disandingkan karena nggak apple to apple. We have our own battlefield.
Jadi beberapa hal yang bisa kita lakukan agar tetap "waras" sebagai seorang ibu adalah:
- STOP membandingkan diri kita dengan ibu lain. Sudah hukum alam bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, tapi kan karena kita nggak tahu apa si tetangga pake pupuk yang tokcer, atau bahkan rumputnya disemir pake cat ijo? Semua yang kita lihat itu hanya tampilan luar, jadi ngapain kita ambil pusing sama kehidupan orang lain?
- Alokasikan waktu untuk diri sendiri, alias me time. Kalau mak Heny kemarin me time-nya adalah tilawah di sepertiga malam, tentunya setiap kita bisa mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang kita suka. Bisa berupa nonton film, makan indomie pake cabe rawit pas anak-anak udah tidur, baca buku, atau nulis? Atau apa aja deh yang bikin ibu hepi dan merasa "menemukan" diri sendiri lagi ketika melakukan hal tersebut.
- Jangan segan untuk meminta pertolongan. Bagi para wonder woman, I know it's hard. Tapi yaaaa.. namanya juga manusia yang udah ditakdirkan dari sononya sebagai makhluk sosial, jadi ya kalau kita udah lelah banget, minta tolong sama suami untuk dibikinin teh manis, atau gantian nyuapin bocah. Yang ini saya musti latihan panjaaang banget loh, dulu. Karena dah biasa melakukan apa-apa sendiri, sampai pernah nangis sendirian di kamar mandi pas lagi nyuci botol ASIP-nya Asaboy. Sediiih banget kalo inget itu. Rasanya kok nelangsa banget. Hahahaha.. tapi sekarang mah, cuek aja minta tolong papinya Asa ini itu.
- Berbagi dengan sesama ibu/perempuan. Ih, gender banget ya, berbaginya sama perempuan aja? Ya iyyalah, demi keamanan jiwa dan raga ya, ibu-ibu? Sebagai mantan ibu yang bekerja di ranah publik, ngerasa nggak sih bu kalau ketika kita bekerja itu rasanya lebih gimanaa gitu karena kan setiap hari kita ketemu orang dewasa dan bisa berbagi itu seneng gitu, lo. Nah, ketika kita beralih ke ranah domestik, waduuh, rasanya kok malah energi terkuras habis? Atau jangan-jangan saya doang nih yang begitu? 😂😂😂 Ketika kita mendengarkan orang (dewasa) lain berbagi, lalu kita tanggapi rasanya beda kalau kita komunikasi dengan anak balita, kan? Jadi ya, atur-atur jadwal meet up lah sama sesama perempuan, biar stressnya terlepaskan.. 😂😂😂
Rasanya, akan sangat banyak tipsnya kalo dijabarkan semuanya ya, buibu? Saya cukupkan sekian aja, ya. Semoga ada satu dua kata yang berfaedah dari tulisan ini. Kalau yang ga berfaedah silakan dilewatkan saja ya, bu. Intinya, kita semua ada di halaman yang sama, buibu. Bedanya, medan juang kita aja.
Semoga kita semua bisa membesarkan anak-anak dengan minim trauma. Amin!
Selamat menjaga kewarasan, buibu. ❤️

Comments
Post a Comment